RESENSI NOVEL : SUNSET BERSAMA ROSIE

image

Judul            : Sunset Bersama Rosie
Pengarang   : Tere Liye
Penerbit      : Mahaka Publishing
Cetakan       : tiga belas, 2015
Halaman        : 426,
Tebal             : 20 cm
ISBN             : 978-602-98883-6-2

Satu lagi novel karya Tere Liye yang cukup laris di pasaran dan pengen saya bahas. Berbeda dengan genre-genre sebelumnya yang lebih membumi, novel ini bergenre drama percintaan melankolis dari “temen jadi demen”. Meski bergenre umum drama percintaan tapi bukan Tere Liye namanya kalau isinya sama dengan novel novel lainnya, pasti ada sisi unik lain daripada lain.

Dengan setting Pulau Bali dan Lombok, novel ini menampilkan kisah cinta persahabatan klasik. Dimana ada dua sahabat yang saling mencintai, tapi sama-sama memendam rasa itu berpuluh-puluh tahun lamanya tanpa berani mengungkapkannya. Mereka baru tersadar saat semuanya sudah terlambat. Tokoh wanitanya bernama Rosie dan prianya adalah Tegar.

Alur cerita mengalir dari sudut pandang Tegar. Tegar dan Rosie bersabahat sejak kecil, mereka bertetangga dan suka mendaki Gunung Rinjani setiap libur semester. Tegar mencintai Rosie. Tapi, Rosie? Ah, Tegar tidak pernah tahu. Yang Tegar tahu, Rosie mencintai Nathan, teman Tegar yang baru dikenalkannya pada Rosie dua bulan lalu. Semua seperti lelucon. 20 tahun penantian Tegar kalah dengan 2 bulan penantian Nathan kepada Rosie. Tegar kalah cepat. Nathan lebih dulu menyatakan perasaannya kepada Rosie.

Tepat di puncak Gunung Rinjani, saat sunset selama 47 detik yang indah itu terjadi. Dan Rosie, untuk kali pertama, memalingkan wajahnya dari sang senja. Menatap Nathan dengan sempurna sambil tersenyum malu-malu menerima cinta Nathan. Sejak saat itu, Tegar sadar, dirinya sudah tidak punya kesempatan lagi.

Sejak kejadian itu, Tegar sempurna menghilang dari kehidupan Nathan dan Rosie. Menyibukkan diri dengan bekerja 10 jam sehari. Mencoba keras melupakan perih pedih sakit hati tentang perasaannya untuk Rosie. Nathan dan Rosie menikah. Punya 4 orang anak perempuan. Keluarga kecil itu sungguh bahagia. Selama 13 tahun, pernikahan itu selalu mulus. Sampai akhirnya Tuhan mengeluarkan skenario terbarunya. Jimbaran, tempat mereka merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke-13, dibom. Nathan mati dengan kepala yang pecah.

Karena khawatir dan panik, Tegar dari Jakarta langsung menuju ke Bali saat itu juga meninggalkan kehidupannya dan rencana pertunangannya.

Akibat meninggalnya Nathan, Rosie menjadi depresi berat. Sering kalap berteriak-teriak, memukul dan menyakiti anak-anaknya tanpa sadar. Rosie direhab. Selama direhab, Tegar yang menjaga keempat anak-anak Rosie. Selama itu pulalah, kejadian 15 tahun lalu seperti tumbuh kembali. Rosie akhirnya sembuh dan Tegar harus kembali ke kehidupannya seperti dulu.

Tegar, sosik pria yang baik hati dan penyayang tapi tega menyakiti hati Sekar, tunangannya yang ditinggalkannya dan digantung selama 2 tahun. Begitu mengetahui Sekar akan bertunangan dengan orang lain, Tegar seakan baru tersadar akan cinta Sekar yang begitu besar padanya. Tegar kembali meminta Sekar untuk tetap bersamanya. Sekar menerima Tegar kembali. Mereka merencanakan ulang pernikahan yang tertunda 2 tahun lalu. Namun lagi-lagi ada peristiwa tak terduga yang menjadi ending cerita dan membuat pembaca terperangah. Jika ingin tahu seperti apa akhir ceritanya, bisa langsung membaca novelnya.

image

Cinta bisa sungguhan membuat seseorang menjadi bodoh. Pemikiran “lebih baik menikah dengan orang yang mencintai daripada yang dicintai”, menjadi ungkapan terselubung di jalan ceritanya.

Novel Sunset bersama Rosie memberikan pelajaran yang begitu berharga, sekuat apapun kita berusaha melupakan masa lalu, masa lalu itu akan semakin lekat di benak kita. Kita hanya boleh “berdamai” dengan masa lalu bukan melupakan. Berdamai untuk memetik hikmah kejadian masa lalu sebagai pelajaran berharga di masa yang akan datang.

Namun sayangnya untuk novel setebal lebih dari 400 halaman ini sukses membuat saya jenuh, Tidak ada rasa penasaran sedikitpun saat menyelami isi cerita. Baru kali ini saya baca novel Tere Liye dengan mood ogah-ogahan, kalau biasanya untuk menyelesaikan baca novel hanya 1-2 hari, waktu membaca novel ini lebih dari seminggu. Bukan karena tebalnya halaman tapi lebih kepada rasa penasarannya tidak ada, novel ini gagal mengaduk-aduk emosiku.

Iklan

Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s