Kenikmatan bulan Ramadhan akan terasa lengkap jika kita bisa berkumpul bersama keluarga, teman, tetangga maupun saudara sesama muslim. Dimana kita bisa sahur bersama, terawih berjamaah, buka puasa bersama dan juga beribadah lain secara bersama-sama. Suasana yang demikianlah yang kadang tiada pernah kita syukuri dan menganggap itu hanya sebuah kebiasaan atau tradisi yang sudah biasa karena memang dari kecil kita selalu merasakannya.

DSCN1415
dok.pribadi : kebersamaan keluarga

 

Suasana Ramahan yang berbeda pernah aku rasakan lima tahun yang lalu, dan itu menjadi sebuah pengalaman berharga sekaligus media intropeksi bagiku untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan juga lebih mensyukuri kenikmatan Ramadhan yang selama ini aku jalani. Saat itu aku mendapat tugas kerja di sebuah desa di kaki Gunung Kawi di Kabupaten Malang Jawa Timur. Kebetulan di desa tersebut penduduknya hampir semuanya non muslim. Tidak ada bangunan masjid atau musholla yang berdiri, adanya hanya di desa tetangga yang jaraknya lumayan jauh dengan akses jalan yang meskipun mulus beraspal namun berkelak-kelok naik turun gunung.

Pada awal penugasan (di luar ramadhan) memang tidak ada bedanya karena memang toleransi masyarakat sangat tinggi, meskipun berbeda agama namun mereka tidak pernah mempermasalahkannya. Hari-hari kulalui dengan biasa tidak ada bedanya dengan tempat lain. Selepas dari tugas harian di Balai Desa aku tetap dapat beribadah secara rutin walaupun ibadahnya sendiri di kamar kos-kosan seperti biasa tanpa terganggu. Namun saat bulan Ramadhan tiba, suasananya benar-benar membuatku merasa sendiri sekaligus sedih. Denyut Ramadhan nyaris tidak terasa sama sekali dan ini rasanya sangat berbeda sekali bagiku.

Saat sahur dan buka puasa terasa jelas bedanya. Jika di tempat asalku tiap waktu sahur tiba, akan banyak anak yang patrol membangunkan sahur juga ada keluarga yang bangun saling mengingatkan. Disini dalam keheningan malam hanya gonggongan anjing yang terdengar, beker Hp menjadi satu-satunya penjaga saat waktu sahur tiba. Namun demikian, Alhamdulillah waktu sahur tiada pernah terlewatkan.

Karena tidak ada masjid, di desa tersebut tiada pernah terdengar suara adzan dan orang mengaji. Jadi ketika saat menjelang buka puasa, aku selalu standby dengan mendengarkan suara radio. Suara adzan di radio disamping untuk pengingat waktu berbuka juga menjadi sebuah lagu indah yang sangat aku rindukan. Saat-saat masuk sholat tiada pernah sekalipun terdengar suara Adzan. Terkadang juga ada teman dan keluarga yang menghubungi untuk memberitahukan waktu berbuka puasa namun itu tidak bisa menjadi jaminan karena sinyal di sana yang kebetulan daerah pegunungan tidak bisa diandalkan. Suara orang mengaji Al-Qur’an yang biasanya menghiasi hari-hari Ramadhan juga tiada pernah terdengar. Jika ada waktu senggang aku mengaji sendiri dengan kitab Al-Qur’an yang aku bawa. Jika merasa capek, maka MP3 Al-Qur’an menjadi teman yang membuai pendengaran.

Untuk menu makan saat sahur dan berbuka puasa, aku masak sendiri dengan bahan-bahan seadanya yang aku bawa sendiri dari tempat asalku agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Berhubung tidak ada yang menjual makanan takjil lazimnya saat puasa ramadhan seperti kolak, kurma dsb maka pilihan takjilnya adalah roti atau makanan kecil beli di toko. Ini sudah cukup sebagai takjil dengan rasa yang sama. Perbedaan terbesar adalah saat siang hari, dimana semua orang tidak ada yang puasa. Sering kali ketika aku keluar rumah, orang-orang makan minum dengan leluasa. Memang hal tersebut tidak membuat aku tergoda namun tetap merasa risih juga.

Suasana ramadhan yang berbeda tersebut aku jalani selama 2 minggu. Selebihnya aku jalani ramadhan di kampung halamanku dengan suasana khas ramadhan seperti biasanya. Ramadhan yang berbeda di desa non muslim tersebut menjadi sebuah pengalaman yang berharga bagiku sehingga membuat aku lebih bersyukur kepada Allah SWT. Banyak hal yang berubah dalam pemahaman kalbuku.

DSCN0594
Dok.pribadi

Dengan menjalani ibadah Ramadhan yang berbeda di desa non muslim tersebut, aku jadi lebih menikmati suara adzan yang biasanya dianggap biasa saja. Aku juga bisa lebih menghargai suara orang tadarus mengaji Al-Qur’an yang terdengar lewat speaker masjid yang kadang dirasa sebagai pengganggu. Suara patrol yang bertalu-talu di keheningan malam dan juga yang paling utama kebersamaan dengan keluarga dan saudara sesama muslim menjadi suatu anugrah indah yang tiada terkira harganya saat bulan Ramadhan tiba.

ini adalah kisah pribadi yang diikutkan dalam lomba menulis “Kisah Ramadhan” yang diadakan oleh Penerbit Pustaka 

 

sa


Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: