SEKELUMIT KENANGAN DI AKHIR MASA ALIYAH

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang mengajak untuk berkumpul bersama dengan teman-teman masa Sekolah di Madrasah Aliyah (Setingkat SMA) dalam sebuah grup whatsapp. Ajakan ini dengan senang hati saya terima. Walaupun anggota grup whatsapp masih sedikit, namun kebersamaan dalam grup whatsapp ini membuat saya sendiri terkenang dengan masa-masa di Madrasah Aliyah dulu.  

Salah satu kenangan yang tak terlupakan dan meninggalkan kesan mendalam adalah kenangan saat akhir ujian sekolah. Kebetulan saya mempunyai banyak foto saat moment tersebut berlangsung sehingga beberapa kejadian terekam nyata dan pengen saya tulis kisahnya, sekedar untuk pengingat di masa depan. 

Saya dan teman-teman perempuan

Kisah Fiksi tentang masa SMA pernah saya tulis dalam sebuah analogi buku dan terbit secara indie. Ulasannya dapat di baca  disini

Madrasah Aliyah tempat saya dulu menghabiskan masa SMA lokasinya berada dalam satu komplek pondok pesantren. Karena berada di komplek pondok pesantren, pengelolaan dan sistemnya benar-benar sesuai dengan kaidah Islam. Dimana murid laki-laki dan murid perempuan terpisah serta tidak diperkenankan untuk berinteraksi. Murid laki-laki jam sekolahnya pagi hari, dari jam 7 hingga 12 siang. Sedangkan murid perempuan siang hari mulai jam 12.30 hingga 17.30 WIB. 

Perbedaan jam sekolah membuat murid laki-laki dan perempuan tidak pernah bertemu dan melakukan kegiatan pada waktu yang sama. Namun hal itu tak berlaku saat ujian akhir sekolah. Jika saat ujian semester, ketentuan sekolah pagi dan sekolah siang masih bisa diberlakukan, saat ujian akhir sekolah kelas 3, baik yang laki-laki maupun yang perempuan harus sama-sama masuk pagi. Meski tidak dalam satu ruangan (karena murid Laki-laki dan perempuan menempati ruangan yang berbeda), tapi kesempatan langka tersebut tentunya tak boleh terlewatkan dan harus di abadikan. 

Murid Laki-laki berpose di bawah tangga

Moment saat ujian akhir sekolah kelas 3 tak akan pernah mungkin terulang suatu saat nanti dan kemungkinan menjadi saat-saat terakhir berkumpul bersama menikmati masa SMA. Disinilah peran kamera teramat sangat diperlukan. Beruntung saya dulu membawa kamera dan mengabadikan beberapa moment berharga di saat ujian akhir sekolah. Jadinya bisa dikenang dan diceritakan hingga sekarang. Ternyata beberapa teman masa Aliyah sudah banyak yang lupa dengan berbagai kejadian di akhir sekolah karena tidak punya arsip fotonya.  

Pada proses ujian akhir sekolah, memang berjalan dengan biasa dan tak ada hal penting untuk dikenang. Semua mengerjakan dengan serius dan berharap mendapatkan hasil nilai yang memuaskan. Saat tidak ada pengawas, adalah hal wajar jika saling memberi kode dan menyontek antar teman. Dari dahulu hingga sekarang praktek tersebut tidak bisa dihilangkan dari perilaku anak sekolah. Yang memberi kesan mendalam bagi saya adalah saat hari terakhir ujian, dimana Kepala Sekolah dan beberapa guru memberi surprise kepada kami, murid murid Madrasah Aliyah yang selesai mengerjakan ujian. 

Saat mengerjakan soal ujian akhir sekolah

Jadi, saat hari terakhir ujian sekolah, kami tidak diperkenankan untuk pulang terlebih dahulu. Kami disuruh menunggu dan kemudian murid laki-laki dan perempuan dikumpulkan dalam satu ruangan, tentunya dengan penyekat diantara murid berbeda genre tersebut. Saya dan beberapa teman perempuan saling bertanya ada apa gerangan? Kenapa dikumpulkan seperti ini? Tapi tidak ada yang mengetahui jawabannya. 
Sampai akhirnya Bapak Kepala Sekolah masuk ke dalam ruangan dan memberi banyak petuah dan wejangan. Intinya memberi selamat kepada kami telah menyelesaikan ujian akhir dengan baik dan berharap kami dapat meningkatkan kemampuan untuk lebih baik lagi. 

Di akhir wejangannya, Bapak Kepala Sekolah berkenan untuk memberikan kenangan dengan menobatkan satu orang murid laki-laki sebagai “KING” dan satu orang murid perempuan sebagai “Queen”. 

Penobatan King dan Quen


Penobatan di lakukan dengan memberikan mahkota dari daun yang dirangkai sedemikian rupa membentuk mahkota dan disematkan di kepala murid yang terpilih. Mahkota tersebut di buat dan dirangkai sendiri oleh Bapak Kepala Sekolah. Tidak ada rasa iri dan dengki dalam penobatan ini karena inti acaranya bukan penyebutan pada siapa yang terbaik tapi lebih kepada kebersamaan dan rasa persaudaraan yang kental. Karena keterbatasan memori otak saya, saya sendiri lupa detail kejadian yang terjadi saat itu, yang saya ingat hanyalah penutupan acara yang di akhiri dengan foto bersama. 

Foto bersama dengan guru dan Kepala Sekolah

Acara seperti ini benar-benar kejutan yang tak pernah di sangka sebelumnya. Semuanya serba mendadak dan murni inisiatif Kepala Sekolah, murid-muridnya tidak tahu apa-apa. Jika sekolah lain merayakan kelulusan dan akhir sekolahnya dengan pesta, hura-hura, makan makan dan sebagainya, bagi saya dan teman teman lainnya, acara sederhana seperti ini sudah sangat luar biasa. Kenangannya benar-benar terpatri dalam sanubari. 

Terima kasih buat Bapak Kepala Sekolah, terima kasih buat teman-teman saya semuanya.
Ini adalah sekelumit kisah di akhir sekolah yang bisa saya ingat dan ceritakan. Jika ada saran, sanggahan atau kesan silahkan tulis di komentar. Jangan lupa follow akun Twitter @Munasyaroh_fadh untuk mendapatkan update terbaru blog ini. 

Iklan

4 thoughts on “SEKELUMIT KENANGAN DI AKHIR MASA ALIYAH

Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s