Menikmati Kenyamanan Naik Pesawat Terbang

Beberapa dekade yang lalu, naik pesawat terbang adalah hal yang mewah dan tidak semua orang bisa merasakannya. Hanya orang-orang yang mempunyai kekayaan berlimpah yang mampu naik pesawat terbang. Naik pesawat terbang sudah identik dengan banyak uang. Namun sekarang zaman sudah berubah, naik pesawat sudah jauh lebih mudah. Tanpa perlu menjadi kaya raya, sudah banyak orang yang bisa naik pesawat terbang.

Saya masih ingat, dulu saat masih kecil melihat pesawat terbang yang melintas di atas langit sudah membuat hati kegirangan. Biasanya jika terdengar suara pesawat yang menderu dari atas, saya dan teman-teman lainnya akan segera keluar rumah dan mendongak keatas langit sambil berteriak “Motor muluk jaluk duite…..!” (pesawat terbang minta uangnya).

Dalam imajinasi kami yang masih anak-anak saat itu, kami membayangkan ada penumpang yang baik hati dan menjatuhkan uang dari pesawat yang ditumpanginya. Mereka yang naik pesawat kan banyak uang jadi menjatuhkan uang receh tentu tidak masalah. Tapi imajinasi tinggal imajinasi, semua hanya untuk seru-seruan. Hingga sekarang tidak pernah ada uang yang dijatuhkan dari pesawat terbang. Mungkin beberapa pembaca juga pernah mengalami masa kecil yang demikian. (Baca juga : Cerita Masa Kecil : Akibat Penasaran)

Dari pengalaman masa kecil tersebut, terselip sebuah keinginan kuat untuk bisa naik pesawat terbang. Meskipun saya orang desa dan tidak termasuk orang yang kaya, saya yakin saya bisanya mewujudkan keinginan tersebut. Alhamdulillah……… Allah SWT mengabulkan keinginan saya tersebut. Sampai saat ini saya sudah berulang kali naik pesawat terbang. Banyaknya agent travel yang salah satunya adalah blibli travel membuat perjalanan naik pesawat terbang jauh lebih mudah dan murah.

Di area keberangkatan Bandara Djuanda

Pengalaman terakhir saya naik pesawat terbang adalah pada bulan Oktober kemarin dengan rute Surabaya – Denpasar PP. Meskipun aslinya kepergian saya bukan untuk traveling, namun Bali adalah surganya pariwisata Indonesia. Jadi kalau sudah disana pasti ada acara traveling juga. Bisa traveling di Bali adalah sebuah petualangan luar biasa yang sudah saya alami di tahun 2017 ini. Tapi postingan kali ini bukan cerita tentang pengalaman traveling di Bali, tapi lebih dikhususkan saat melakukan perjalanan dengan pesawat terbang ke Bali. Cerita traveling saya dapat dibaca di bagian lain. (Baca : Membuka Cakrawala Baru saat di Bali)

Di hari yang telah ditentukan berangkatlah saya ke Bandara dengan menenteng ransel yang dimasukkan ke dalam koper (Baca ceritanya : Bingung pilih Koper atau Ransel). Perjalanan dari rumah ke Bandara alhamdulillah lancar jaya tanpa ada kendala apapun. Dari rumah berangkat sendiri, namun di bandara bertemu dengan 2 teman yang juga mengikuti acara yang sama. Sebelumnya kami belum pernah bertemu dan mengenal satu sama lain. Baru di bandara tersebutlah kami bertemu langsung dan berkenalan.

Bandara Djuanda di Surabaya terdiri dari 2 terminal yakni terminal 1 dan terminal 2. Jarak antar terminal lumayan jauh. Kami berangkatnya dari terminal 2 yang tergolong masih baru dan lebih modern. Pesawat berangkat pukul 17.40 WIB, dan saya sudah berada di bandara Djuanda 2 jam sebelum keberangkatan agar tidak telat dan bisa leluasa chek-in dan cetak boarding pass.

Pada proses ini semua berjalan dengan lancar. Saya dan 2 teman saya melewati beberapa pemeriksaan standar di bandara. Ada 2 pemeriksaan barang menggunakan alat pemindai sinar X dan 2 kali pemeriksaan tiket pesawat oleh petugas saat masuk ke ruang tunggu. Karena tidak ada barang yang ditaruh di bagasi, kami langsung masuk keruang tunggu dan duduk manis disana.

Sekitar pukul 17.10 WIB ada panggilan boarding. Pesawat yang kami naiki sudah standby dan siap mengantar kami. Satu persatu penumpang berjalan melewati koridor yang lumayan panjang serta berliku untuk selanjutnya masuk ke dalam pesawat. Di depan pintu masuk pesawat, sudah ada pramugari yang menyambut dan tersenyum dengan ramah. Mereka membantu beberapa orang yang kebingungan dan kesulitan memasukkan barang ke kabin.

Begitu didalam pesawat, saya segera mencari kursi sesuai dengan yang tertera di tiket boarding pas. Alhamdulillah saya dapat kursi di dekat jendela pesawat. Kursi di dekat jendela adalah tempat favorit penumpang pesawat. Dari tempat ini para penumpang ini bisa melihat pemandangan di luar pesawat. Sayangnya saat itu hari sudah beranjak malam sehingga saya tidak bisa mengabadikan foto dari dalam pesawat karena pencahayaannya tidak ada. Saya hanya bisa memandang kerlap kerlip lampu di bandara dan juga lampu di sayap pesawat.

Setelah seluruh penumpang sudah masuk dan duduk di kursinya masing-masing, pramugari dan awak kabin lainnya melakukan prosedur penerbangan. Dimulai dari peragaan keselamatan yang memang sudah menjadi standart di setiap maskapai, pemberitahuan larangan-larangan dalam pesawat terbang dan juga petunjuk-petunjuk lainnya. Terkadang hal ini disepelekan oleh beberapa penumpang yang sudah sering naik pesawat, namun sangat penting demi keselamatan dalam penerbangan. Yang baru pertama kali naik pesawat tentu sangat terbantu dengan penjelasan ini.

Untuk mengurangi rasa mual dan meminimalisir tekanan udara di telinga, saya makan permen dan mendengarkan musik lewat earphone. Setingan Hp saya ubah ke mode pesawat supaya tetap bisa menikmati lantunan musik tanpa mengganggu sinyal penerbangan. Berdasarkan saran dari banyak orang, mengunyah permen dan menutup telinga saat penerbangan dapat digunakan untuk mengurangi tekanan pada telinga dan meminimalisir mabuk udara. Ternyata cara ini terbukti berhasil dan orang desa seperti saya akhirnya tidak mabuk udara.

Berlahan namun pasti, mesin pesawat mulai menderu dan pesawat mulai bergerak berlahan-lahan. Setelah berputar sejenak mencari posisi yang tepat, pesawat kemudian melaju dengan kencang dan sedikit demi sedikit terangkat keatas. Saat mulai naik keatas ada sensasi tersendiri yang dirasakan. Seperti saat naik rolling coster, ada rasa berdebar sekaligus andrenalin yang berpacu.

Di dalam pesawat, terdapat beberapa majalah yang bisa dibaca dan diletakkan persis di depan kita diantara selipan kursi. Berhubung saya selalu merasa pusing jika membaca di dalam kendaraan, majalah-majalah tersebut saya biarkan saja tanpa tersentuh. Saya lebih memilih memejamkan mata untuk menginstirahatkan diri sejenak. Walaupun tidak benar-benar tidur, namun setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa capek dan lelah. Tak beberapa lama kemudian, ada pramugari yang membawa troli menawarkan berbagai produk makanan dan minuman. Beberapa orang ada yang beli namun saya hanya melihat sekilas saja tanpa berniat ikut membeli.

Perjalanan berlangsung mulus, tidak ada guncangan yang berarti. Saya menikmati kenyamanan naik pesawat terbang saat itu. Tak terasa 45 menit berlalu, terdengar pengumuman kalau pesawat akan mendarat di Denpasar Bali. Saya lihat di jendela sudah terlihat banyak lampu yang berkelap-kelip bertanda pesawat sudah akan turun ke bumi. Pesawat terus menderu dan terasa sedikit menukik hingga akhirnya mulai terlihat jelas ada banyak bangunan dan juga kendaraan yang berlalu lalang. Pesawat akhirnya benar-benar mendarat dengan mulus dan mencapai runway beberapa saat kemudian.

Saat pesawat menuju taxy way dan bersiap parkir, pramugari mengingatkan para penumpang untuk tetap duduk di kursi masing-masing dan sabuk pengaman tetap terpasang hingga pesawat benar-benar berhenti. Para penumpang mendengarkan dengan patuh dan mereka baru melepaskan sabuk pengaman saat pesawat sudah berhenti.

Sekitar Pukul 20:00 WITA pesawat sudah mendarat dengan selamat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Karena perbedaan waktu antara WIB dan WITA, perjalanan Surabaya – Denpasar seakan akan ditempuh lama, padahal aslinya cuma 45 menit saja. Begitu turun dari pesawat, suasana Bali langsung terasa. Tak lupa saya mengabadikan beberapa sudutnya dengan jepretan kamera.

Perjalanan menggunakan pesawat terbang saya akui lebih baik dan lebih nyaman dibandingkan dengan transportasi lainnya. Disamping waktu perjalanannya yang lebih singkat dan terhindar dari macet, menggunakan pesawat juga terkadang harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan transportasi lainnya jika ada promo. Sistem keamanan yang sangat ketat membuat perjalanan naik pesawat terbang sangat aman dan jauh dari resiko kecelakaan. Bandingkan dengan menggunakan kendaraan bermotor atau mobil yang rawan sekali mengalami kecelakaan.

Karena kelebihan-kelebihannya, pesawat terbang kini sudah menjadi alternatif dan pilihan yang dipilih masyarakat dalam bepergian. Banyaknya promo tiket pesawat murah, seperti yang ditawarkan oleh beragam maskapai penerbangan membuat banyak orang melirik transportasi ini. Salah satunya adalah tiket sriwijaya air yang bisa didapatkan di berbagai agen perjalanan seluruh Indonesia.

Ikuti Blibli.com Blog Competition #SahabatPerjalananmu. Hadiah Tiket Pesawat PP & Voucher Belanja

Demikian sekelumit cerita saya menikmati kenyamanan naik pesawat terbang ke Bali bulan Oktober kemarin. Jika anda mempunyai cerita sejenis atau cerita lain yang lebih menarik, bisa kok tulis di komentar. Dengan senang hati saya akan menyimaknya.

Iklan

25 respons untuk ā€˜Menikmati Kenyamanan Naik Pesawat Terbangā€™

  1. Anis berkata:

    Teringat anak saya Fahmi. Dia merengek terus minta diajak naik pesawat. Duh emang naik pesawat semudah kalau mau naik ojek kali ya?
    Liburan akhir tahun mulai cari2 deh naik pesawat murah meriah untuk liburan sekadar memenuhi permintaan nya. Mohon doanya Semoga semua lancar ya. Trims ini pengalamannya bisa jadi referensi
    Salam
    Okti Li

    Suka

  2. bloggergunung berkata:

    Tahun baru biasanya banyak promo rute penerbangan ya. Pengalamannya bisa jadi referensi nih.
    Coba liburan kali ini agak jauh an dikit biar bisa naik pesawat bawa anak hehehe
    Salam
    Okti Li

    Suka

  3. Nchie Hanie berkata:

    Waah serunya pengalaman naik pesawatnya ya Mba.
    AKu jadi inget pertama kali naik pesawat ke Surabaya, asli takut, jadi dalam perjalanan ga menikmati yg ada diajak ngobrol sama temen sebelah.

    Suka

  4. Beautyasti1 berkata:

    Sekarang aja saya juga suka bercanda kalau ada pesawat gitu, pesawat! Bagi duiitt! Om telolet om! I honestly ga suka naik pesawat, tapi bagaimana lagi, ini adalah transportasi tercepat ^^

    Suka

  5. Ratri Anugrah berkata:

    Kalau ke Bali aku memang selalu merekomendasikan naik pesawat, Mba. Soalnya ortuku lebih suka jalur darat a.k.a naik mobil sendiri. Tapi ayah kan sudah nggak sesehat dulu, nggak sesegar dulu. Jadi malah takut ada apa-apa di jalan dan makin capek. Bali kan jauh :ā€ā€)

    Disukai oleh 1 orang

  6. April Hamsa berkata:

    Entahlah, semenjak punya anak (masih balita) saya udah kurang menikmati naik pesawat, maunya lekas2 sampai haha. Alhamdulilah anak2 skrng lbh gede, semoga tahun depan bisa mudik ke rumah kakke neneknya naik pesawat dengan lbh nyaman šŸ˜€

    Suka

Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s