Jalan Ribuan Kenangan Yang Penuh Gelombang

Di sebuah Grup Facebook yang bertitel Beritae Wong Lamongan tiba-tiba ramai dengan foto serta komentar-komentar mengena kondisi sebuah jalan. Kebetulan saya sangat mengenal jalan yang dipampang fotonya tersebut. Jalan ini menjadi saksi perjalanan saya selama 6 tahun dalam menuntut ilmu. Jalan tersebut memiliki ribuan kenangan yang penuh gelombang.

Banyaknya komentar yang terdapat dalam unggahan foto tersebut membuat hati saya tergelitik. Mereka semua berkomentar tanpa tahu hal yang sebenarnya. Kebanyakan berupa sumpah serapah yang memaki ketidakbecusan pemerintah dalam penanganan dan kemerataan pembangunan. Tidak ada satupun yang memberikan solusi atau memberikan penjelasan mengapa itu terjadi. Saya sendiri sudah ikutan berkomentar dan memberikan sedikit informasi tentang jalanan itu, namun tiada yang peduli. Akhirnya hanya bisa mengamati saja.

Postingan ini bukanlah pembenaran atau penjelasan mengenai kondisi jalan tersebut, namun postingan ini hanyalah sekedar coretan kecil dari saya mengenai jalan yang memberikan ribuan kenangan walaupun penuh gelombang. Bagi saya pribadi, jalan yang menjadi pembatas Desa Pucangro dan Desa Karangwedoro tersebut menciptakan sebuah sejarah tersendiri.

Kondisi jalan yang seperti terlihat dalam gambar kondisinya sudah jauh lebih baik daripada saat saya sekolah dulu. Sejelek apapun kondisinya sekarang, jalanan ini masih bisa dilewati. Baik kendaraan bermotor maupun sepeda onthel. Saat musim hujan maupun musim kemarau, orang-orang masih bisa melewati jalan ini setiap saat meskipun dengan sedikit guncangan.

Hal itu berbeda jauh dengan kondisi waktu saya sekolah dulu. Saat musim hujan datang, jalanan yang dulunya hanya berupa tanah benar-benar sudah tidak bisa dilewati. Para pengguna jalan terpaksa harus meninggalkan sepedanya dan berjalan kaki melewati jalan ini. Kalau ngotot pengen lewat menggunakan sepeda, sepedanya naik ke orangnya, bukan orang yang naik sepeda. Para pelajar yang mau sekolah, harus rela berjalan kaki sampai batas desa dan menitipkan sepedanya di rumah-rumah yang ada di batas desa. Begitu juga dengan para petani yang mau kesawah maupun orang-orang yang bepergian melewati jalan ini.

Saat musim hujan datang, saat berangkat sekolah saya memilih jalur memutar lewat jalan raya besar. Dibandingkan dengan melewati jalanan ini, jalur jalan raya memang sudah mulus. Namun waktu tempuhnya jauh lebih lama dan tentunya memerlukan ongkos yang tidak sedikit. Kalau boleh memilih, tentu saya lebih senang lewat jalan ini.

Baca juga : Jamu Sawan Produk Herbal Khas Desa Pucangro

Dari segi administratif, jalan yang juga menjadi jalur Napak Tilas Jalan Kadet Suwoko ini masuk dalam Kecamatan Turi. Namun dari segi wilayah, dekat dengan wilayah Kecamatan Kalitengah. Pembangunan dan perawatannya tidak bisa dibebankan pada Dana Desa di masing-masing desa. Karena sudah ada aturan mengenai hal ini. Pembangunan jalan menjadi wewenang pemerintah kabupaten dan kecamatan.

Berdasarkan kabar yang pernah saya dengar dari sebuah institusi, jalan ini rencananya akan jadi jalan raya alternatif penghubung antar wilayah. Mengingat jalur utama Surabaya-Babat yang relatif padat, jalan yang menghubungkan Kecamatan Kalitengah dan Karanggeneng dengan Kecamatan Turi serta Kecamatan Lamongan tersebut bisa dijadikan alternatif pilihan perjalanan. Tapi kabar hanya sekedar kabar, belum tahu kapan terealisasikan. Sampai saat ini renovasi jalan sudah dilakukan setahap demi setahap.

Berdasarkan yang saya ketahui dan rasakan langsung, jalan ini dulunya lebarnya tak sampai 3 meter. Mobil atau kendaraan roda empat dipastikan tidak bisa lewat. Lalu setahap demi setahap jalan diperlebar.Jalan yang dulunya hanya berupa tanah dan rumput kemudian diberi batu pedel. Kondisi jalan batu pedel dibiarkan kurang lebih 2 tahun. Lalu setelah itu baru diberi paving.

Seharusnya pemasangan paving di dibarengi dengan perawatan tiap hari, yakni meratakan pasirnya dan memadatkan dengan air. Berhubung tidak ada yang melakukannya, jadinya paving yang terpasang tidak benar-benar melekat. Beberapa paving banyak yang keluar dari tempatnya. kondisi ini terus berlanjut hingga sekarang.

Para pengguna jalan tentunya punya andil besar dalam hal ini. Mereka (termasuk saya) hanya ingin enaknya saja. Mau lewat tapi tidak mau merawat. Coba kalau setiap pengguna yang lewat mau turun sebentar menempatkan kembali satu paving yang melesat keluar dan memadatkannya tentu kondisi jalan tidak akan seperti ini. Kalau ada 100 pengguna setiap hari tentunya ada 100 paving yang bisa diperbaiki. Jalanan jadi rapi tiada gelombang.

Kondisi diperparah dengan keisengan beberapa pemancing dari luar desa yang sengaja mengambil paving yang melesat keluar untuk digunakan sebagai dudukan saat memancing. Meskipun hanya beberapa saja namun tetap saja membuat kerusakan jalan makin parah.

Saya yakin pemerintah Kabupaten Lamongan sudah memiliki strategi dan rencana buat memperbaiki jalanan ini dan membuat transportasi penduduk sekitar lebih mudah. Apalagi dengan viralnya kondisi jalan di media sosial membuat banyak orang memperhatikan. Hanya saja masih terkendala dana, aturan dan juga hal-hal teknis lainnya. Semoga saja jalan ribuan kenangan ini tidak terus bergelombang.

Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s