Resensi Cerpen Celurit Warisan Karya Muna Masyari

Cerpen berjudul Celurit Warisan karya Muna Masyari ini mengkisahkan tentang perjalanan sebuah celurit yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Celurit sendiri adalah sebuah senjata tradisional yang digunakan di di Pulau Madura Jawa Timur. Pewaris celurit dalam cerita ini adalah Kelebun. Istilah Klebun merupakan sebutan untuk Kepala Desa di Pulau Madura. Di beberapa referensi penulisannya adalah Klebun, tanpa huruf e. tapi dalam cerpen ini entah kenapa ditulis kelebun.

Celurit warisan

Ilustrasi Celurit senjata khas Madura

Celurit yang menjadi pembahasan utama sekaligus ide cerita dari cerpen ini memiliki keunikan tersendiri dan tidak bisa disamakan dengan Celurit lainnya. Di dalam cerpen dijelaskan bahwasanya celurit akan menjadi tajam jika diarahkan pada orang yang bersalah. Sebaliknya celurit akan langsung tumpul jika diarahkan pada orang yang tidak bersalah. Celurit ini seakan-akan memiliki jiwa sendiri yang dapat membedakan mana orang yang bersalah dan mana yang tidak.

Konon celurit ini sudah puluhan tahun melaksanakan tugasnya. Di tangan kelebun, Celurit Warisan sudah menghukum banyak orang yang berbuat jahat. Para pencuri yang tertangkap di desa tempat bermukimnya celurit dihukum dengan cara dipotong tangannya menggunakan Celurit Warisan. Jika ada yang membunuh, maka dia harus dibunuh juga menggunakan celurit warisan.

Untuk mempertajam insting Celurit Warisan, ritual ritual khas budaya setempat rutin dilakukan. Kehebatan Celurit Warisan ini konon sudah menyebar kemana-mana. Bukan ketajaman Celurit yang menjadi buah bibir, namun insting dari celurit itu yang dikenal banyak orang.

Konflik cerita terjadi saat Celurit Warisan digunakan untuk membunuh seseorang. Pembunuhnya adalah anak kelebun sendiri yang mana dia masih belum punya hak untuk menggunakannya. Sedangkan orang yang dibunuh adalah warga luar kampung yang tidak melakukan hal kriminal. Yang dilakukan oleh korban pembunuhan adalah menggoda seorang gadis yang disukai anak kelebun saat lewat di pinggiran hutan.

Pelaku yang terbakar emosi mencoba untuk membela sang gadis. Menurut penuturan anak Kelebun, korban malah menantang untuk dicelurit menggunakan Celurit Warisan karena merasa dirinya hebat dan kebal. Anak Kelebun kemudian bergegas pulang ke rumah dan mengambil Celurit Warisan. Mereka berduel dan berakhir dengan kematian korban.

Konflik batin dialami Kelebun. Sang Kelebun mengalami kebimbangan, apakah akan memberikan hukuman mati pada anaknya seperti yang diminta oleh warga kampung dan telah menjadi tradisi sejak dahulu? Ataukah membiarkan anaknya tetap hidup karena rasa sayang dan kepercayaan bahwa anaknya tidak bersalah. Endingnya sendiri masih menyisakan banyak tanya, sehingga kalau dilanjutkan akan jadi panjang. Namanya saja cerpen, jadi cukup singkat saja ceritanya. Kalau mau panjang tentu dijadikan Novel

Unsur Intrinsik Cerpen

Cerpen ini secara tidak langsung telah mengenalkan salah satu kebudayaan daerah di Indonesia. Walaupun tidak menyebutkan Madura sebagai latarnya, namun penyebutan Celurit dan Kelebun sudah dapat diketahui kalau lokasi ceritanya ada di sebuah kampung di Pulau Madura Jawa Timur.

Alur yang digunakan dalam cerpen adalah alur maju mundur. Awalnya saya tidak memahami apa yang diceritakan dalam cerpen. Alurnya bikin bingung. Paragraf pertama dan kedua tidak terlalu singkron. Saya baru bisa memahami gambaran cerita setelah membaca jauh ke bawah.

Tokoh yang ditampilkan tidak bernama, hanya disebut sang Kelebun saja dan masyarakat setempat. Kata “mu” pada jemari ringkihmu dan di kalimat kalimat lainnya bikin bertanya tanya. Ini mu siapa yang dimaksud. Sampai di akhir cerpen baru terjawab yang dimaksud mu ini tak lai dan tak bukan adalah ayah Kelebun. Cerpen yang ditulis ini seperti sebuah surat yang ditulis untuk seseorang. Dalam hal ini adalah ayah sang Kelebun.

Amanat yang ingin disampaikan dalam cerpen adalah bahwa seorang pemimpin harus bisa menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.

Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s