Memori Daun Pisang Untuk Membungkus

Lihat dedaunan ini dari jendela dapur, jadi keinget terus dengan ibu. Semasa hidupnya, ibuku suka sekali bikin masakan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Brengkesan, cabuk dan lontong jadi kesukaannya. Masakan-masakan itu disamping bumbunya banyak juga butuh pembungkus dari daun pisang supaya terasa sedap.

Bungkus daun pisang

Tanaman pisang di belakang rumah

Dulu kami tidak punya tanaman pohon pisang sendiri. Untuk mendapatkan daunnya harus mengambil di pekarangan tetangga. Kehidupan di desa itu yang masih membuat kami tidak perlu membeli. Kalau butuh bisa mengambilnya sendiri asalkan bilang ke yang punya terlebih dahulu. Urusan ambil mengambil ini, biasanya aku yang melakukannya.

Watu mengambil daun pisang di pohonnya kadang itu bikin jengkel. Karena daun Pisang yang lebar dan kualitas baik letaknya pasti agak ke atas. Postur tubuhku yang pendek membuat aku susah buat ngambilnya. Kadang aku mengambil yang berdaun sempit yang bisa terjangkau oleh tangan, Tapi ternyata setelah pakai satu tangkai daun pisang untuk membungkus bahan makanan, daunnya masih kurang dan harus nyari lagi. Alhasil harus bolak balik ke pekarangan tetangga.

Sampai akhirnya, awal tahun lalu adik laki-lakiku berinisiatif mengambil satu tunas pisang dan menanamnya di belakang rumah. Dulu area belakang rumah masih berupa jublang yang banyak air, tapi sekarang sudah diurug dan bisa ditanami pisang.

Hari ke hari tunas pisang itu tumbuh subur. Kala daunnya sudah mulai banyak ada rasa syukur yang tercipta. Walaupun daun dan tanamannya belum begitu rimbun seperti punya tetangga, namun pisang tersebut daunnya sudah bisa dimanfaatkan. Beberapa kali ibuku mengambil daunnya buat membungkus makanan. Karena letaknya di dekat dapur, jadi gak perlu menyuruhku mengambilkan. Begitu seringnya mengambil daun pisang hingga tanamannya terlihat gundul.

Selama ibuku sakit, aku pernah diminta sekali buat mengambil daun pisang di belakang rumah buat membungkus brengkesan udang. Waktu itu, nafsu makan ibuku hampir tidak ada. Beliau ingin makan dengan lauk brengkesan supaya nafsu makannya banyak. Aku yang tidak pandai memasak begituan tetap semangat menurutinya.

Dengan keadaan lemah dan sakit ibu memberitau bumbu apa saja yang harus dimasukkan kala membuat brengkesan atau dalam bahasa Indonesia disebut pepes. Tak lupa juga memberikan instruksi bagaimana cara membuatnya. Alhamdulillah, makanan tersebut bisa matang dan dinikmati oleh ibuku.

Sebulan sepeninggal ibuku, memori pembungkus daun pisang berkelebat kala melihat tanamannya. Dasar aku yang tidak ahli masak dan tidak mau ribet dengan bungkus membungkus, daun pisang yang lebar dan panjang itu tidak termanfaatkan. Tapi tetap Alhamdulillah, Rimbun daunnya bisa dinikmati oleh mata dan oksigen yang diproduksinya di hirup banyak orang. Suatu saat nanti akan muncul buahnya buat dimanfaatkan banyak orang.

 

Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s