Reaksi Tubuhku Pasca Vaksin Covid-19 Tahap Satu dan Dua

Alhamdulillah vaksinasi covid-19 tahap satu dan dua sudah dijalani dengan baik. Dua-duanya dilokasi yang sama yakni di Balai Desa Pucangro. Tahap pertama di tanggal 27 Mei 2021 dan tahap kedua 18 Agustus 2021. Karena jenis vaksinnya adalah AstraZaneca maka jarak antara tahap satu dan tahap dua lumayan lama, yakni 3 bulanan.

Ada banyak cerita yang terukir kala mendapatkan vaksin ini, mangkanya ingin aku tulis di salah satu blog yang aku punyai. Setelah ditimbang-timbang akhirnya pilih posting di blog Munasyaroh Fadhilah ini.

Foto setelah vaksinasi covid-19 tahap dua

Sebenarnya aku sendiri juga takut untuk divaksin, lha suntik ajah aku gak pernah. Terakhir kali berurusan dengan jarum suntik mungkin saat kelas 6 MI dulu. Setelahnya sudah tidak pernah lagi. Beruntung tidak pernah sakit yang parah sehingga tidak perlu berurusan dengan suntik menyuntikkan atau obat-obatan. Namun karena sering kali dapat job mengenai vaksinasi dan juga tau kalau vaksinasi ini nantinya diiwajibkan bagi semuanya mangkanya mau ikut. Ntar kalau sudah banyak yang sadar dan butuh vaksin, pasti rebutan dan susah mendapatkan vaksin.

Ceritaku Pasca Vaksin Tahap Pertama

Di Desaku, aku ikut program vaksinasi gelombang pertama. Saat itu sebenarnya jatahnya untuk 100 orang dan khusus buat jajaran pemerintahan desa desa, kader desa, dan para pedagang. Namun karena banyak yang takut divaksin dan belum ada kewajiban, jadinya target yang vaksinasi tidak tercapai. Yang ikut vaksinasi cuma setengahnya.

Di Balai desa kala vaksin tahap satu sempat ada insiden kecil. Waktu aku datang aku langsung foto-foto dan bikin video. Rencananya mau upload di Tiktok dan Youtube. Tapi ada salah satu nakes disana yang panggil dan bilang kalau gak boleh terlalu banyak ambil foto. Katanya sih sudah ada kesepakatan di desa. Aku yang awalnya semangat bikin konten jadi drop, gak meneruskan memfoto dan memvideo. Aku cuma minta fotoin saat di suntik jarum saja dan foto pegang kartu vaksin.

Waktu disuntikan vaksin di lengan kiri, tidak merasakan sakit yang parah. Cuma ngerasa ketusuk jarum pentul saja. Setelahnya tidak ada bekas sakitnya.

Hari pertama pasca vaksin kondisi badan masih aman, habis vaksin aku masih bisa mbolang kemana-mana bareng teman. Tapi di malam harinya sudah merasakan rasa sedikit gak enak, rasa dingin menyergap kala anggota tubuh terkena air. Badan terasa sakit disana sini. Hal itu masih berlanjut di hari kedua. Meskipun masih bisa memasak dan melakukan berbagai hal kecil lainnya tapi badan terasa lemas, ada rasa sakit yang menyertai di perut, gigi dan kepala.

Kadar sakit pasca vaksin sih tidak parah, hanya ada sedikit saja. Mungkin karena sebelumnya sudah punya riwayat penyakit tersebut sehingga area itulah yang terasa sakit. Hari ketiga alhamdulillah sudah terasa lebih baik. Tidak ada meriang atau panas di badan yang datang seperti yang dikhawatirkan banyak orang.

Masalah justru muncul seminggu setelah vaksin. Ketika bangun tidur di pagi hari, rasa pusing yang hebat datang menyerang. Dunia terasa berputar-putar. Untuk jalan amat susah. Aku muntah beberapa kali sampai badan terasa lemas. Pada akhirnya hanya bisa tiduran saja dan tidak bisa ngapa-ngapain. Rasa pusing sedikit reda kalau sudah muntah.

Karena di rumah waktu itu ada acara lamaran adik ke tiga dan nikahan adik kedua, aku gak bisa istirahat sepenuhnya. Meskipun merasa pusing tapi tetap melakukan banyak hal. Memang gak bisa cepet seperti orang sehat yang penting tidak berdiam diri saja saat ada banyak orang yang bantuin di rumah.

Aku sudah coba terapi pijat dan pergi ke tenaga kesehatan buat meredakan rasa pusing di kepala. Namun pusingnya gak hilang hingga sebulan. Di lengan dan pinggang juga muncul bercak hitam kebiruan. Sakit ini membuatku tidak bisa berfikir dan menulis blog. Sehingga blogku kosong dalam sebulan.

Setelah browsing sana sini, akhirnya aku tahu kalau vaksin AstraZaneca yang aku dapatkan memiliki efek samping pembekuan darah. Mangkanya timbul rasa pusing di kepala dan menimbulkan banyak bercak di tubuh. Karena sudah tahu penyebabnya, jadi lebih mudah mengatasinya. Kalau rasa pusing tiba-tiba datang, aku obati dengan minum air hangat. Kadang juga susu coklat hangat. Alhamdulillah pusingnya langsung mereda.

Berdasarkan apa yang aku baca dan telah dikasih tau oleh tenaga kesehatan di Desaku, efek vaksin berbeda-beda tiap orang. Apa yang terjadi padaku pasca vaksin berbeda dengan yang lainnya. Ada yang pasca vaksin tidak apa-apa, ada yang sedikit panas dan hanya sedikit yang seperti kasusku. Itu semua adalah bentuk perlawanan dan juga adaptasi vaksin di dalam tubuh.

Pengalaman Pasca Vaksin Tahap Kedua

Setelah vaksin tahap pertama, jadwal vaksin tahap 2 akhirnya datang. Berhubung jaraknya lumayan lama jadi sudah lupa dengan efek sakitnya dulu. Menghadapi Vaksin tahap dua aku jadi lebih percaya diri. Sudah tidak takut jarum suntik lagi. Sebagai bentuk antisipasi sudah menyiapkan banyak makanan bergizi di kulkas seperti sayur, buah, susu dan juga madu.

Waktu vaksin tahap dua kemarin kebetulan dibuka juga vaksin tahap satu untuk menggenapi kekurangan sebelumnya, gak dinyana ternyata banyak sekali yang minat dan mendaftar. Tapi jumlah vaksin terbatas sehingga yang sudah terlanjur datang ke balai desa merasa kecewa. Yang bisa ikut vaksinasi tahap satu hanya orang tertentu saja yang sudah terdaftar sebelumnya.

Seiring dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan vaksin dimana-mana, pada akhirnya banyak sekali yang ingin vaksin juga tapi jatah di desa sudah gak ada. Alhasil nyarinya di Lembaga lain dan diluar desa. Beberapa bahkan ada yang menyesal mengapa kok gak ikutan waktu ada kesempatan. Disini aku merasa bersyukur, Allah memberikan jalan mudah bagiku dan memantapkan hati buat ikut vaksinasi.

Proses vaksinaai tahap kedua lumayan cepet . Setelah datang terus didata, diukur tensi darah dan langsung disuntik vaksin. Beda dengan tahap pertama yang pakai proses wawancara dan ditanyain riwayat penyakit sehingga lumayan lama ngantrinya. Di tahap kedua proses menunggu hanya saat ambil data yang diprint lalu pulang.

Pasca vaksin kedua, tangan kiri yang disuntikan jarum terasa agak sakit. Dipakai angkat barang berat tidak bisa. Beberapa orang menyarankan untuk langsung konsumsi degan ijo buat ketahanan tubuh. Karena terbukti yang konsumsi degan ijo kondisinya baik-baik saja pasca vaksin sampai pedagangnya kehabisan stok. Biar gak sakit pasca vaksin aku minum degan ijo juga.

Gak tau karena efek degan ijo atau memang tubuhku yang sudah kebal. Di malam hari aku nyaris tidak merasakan sakit apa-apa. Hanya merasa ngantuk berat dan sering buang air kecil. Habis maghrib langsung tidur. Bangun jam 11an untuk buang air kecil dan sholat Isya. Habis itu tidur lagi hingga pagi. Beberapa hari pasca vaksin tetap demikian, hanya merasa ngantuk, pingin buang air kecil dan selalu lapar.

Seminggu pasca vaksin tahap dua alhamdulillah sudah kembali normal. Bahkan merasa lebih sehat dan semangat. Sekali lagi memang efek vaksinasi berbeda-beda tiap orang. Apa yang terjadi padaku tidak bisa menjadi patokan. Semua kembali pada ketahanan tubuh masing-masing. Ayo Genmuda dan semuanya jangan takut vaksin ya….

Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s