Ceritaku Swab Antigen Pertama Kali

Selama ini selalu menghindari tes Swab yang diharuskan untuk sogrok hidung. Kalau untuk tes yang cubles jari sih sudah pernah menjalaninya. Konon menurut beberapa yang pernah mengalam tes SWAB ini, rasanya sakit dan bikin gak enak di hidung selama beberapa jam bahkan ada yang beberapa hari. Mangkanya aku sangat menghindarinya.

Untungnya gak pernah ada undangan ke luar kota yang naik pesawat selama Pandemi karena dipastikan harus swab dulu. Paling jauh ke Jember, itupun dibelain naik bis saja, gak mau naik kereta. Sampai akhirnya kemarin, saat ngikut teman di satu acara dalam Hotel di Surabaya tiba-tiba diminta tes Swab. Kepanikan langsung melanda karena sesekali batuk datang di tenggorokan.

Memang sih acaranya ada di Hotel bintang Lima dan yang hadir adalah para Kepala Daerah dari seluruh Jawa Timur. Sehingga wajar jika menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan dalam arti yang sebenarnya, bukan yang abal-abal. Semua yang ikutan acara diwajibkan untuk tes swab di sebelahnya lobi.

Jujur, kalau sebelumnya tau ada agenda swab segala kayak gini, pastinya gak mau deh ikutan. Cerita tentang swab yang beredar di luaran membuat keengganan menyergap. Tapi mau gimana lagi, tidak ada pemberitahuan sebelumnya sehingga tidak tahu. Aku juga sudah sampai lokasi. Masak dihadapan petugasnya langsung balik lagi. Sudah ngantri pula, pasti malu sendiri lah. Mau tidak mau harus dijalani.

Karena ini pertama kalinya ikut tes Swab, gak afdhol kalau gak ditulis di Blog. Apalagi ada sedikit drama yang menyertai. Jadi pengen menuliskan untuk dibaca lagi di tahun-tahun mendatang.

Pertama-tama, tim swab yang berbaju APD memintaku untuk menuliskan nama lengkap, nomer telepon dan Nomer NIK. Dalam benakku NIK ini pastinya untuk pencocokan data. Kalau misalnya nanti hasilnya positif maka bisa dipastikan unsur pemerintahan dan juga tim kesehatan terdekat akan tahu.

Setelah menuliskan nama dan lainnya, aku disuruh menunggu di kursi yang ditentukan. Petugas mendahulukan antrian yang sebelumnya. Dari kursi tunggu, kulihat orang yang diswab lumayan cepat. Gak sampai 1 menit sudah selesai. Jadi antriannya gak terlalu lama.

Sampai akhirnya namaku disebut setelah nama temanku. Waktu temanku di swab, aku memfotonya tapi gak keburu karena cepat sekali. Hasil jepretan kamera jadi gak bisa terlalu fokus. Ketika tiba giliranku yang diswab, temanku gantian memfoto.

Kala petugasnya memasukkan alat pertama kali ke hidung, reflek aku menghindar dan menjauh. Itu reflek lho bukan kesengajaan. Lalu dicoba lagi, dan reflekku masih sama. Sampai akhirnya petugasnya bilang kalau dia dokter dan harus percaya sama dia. Apa yang dilakukannya gak bakalan bikin sakit. Beda dengan yang mungkin aku temui sebelumnya (padahal dalam hatiku, ini yang pertama kali)

Petugas yang katanya dokter itu juga memintaku untuk memejamkan mata supaya gak tau kalau ada sesuatu yang masuk ke hidung. Terbukti memang dengan menutup mata, reflek penolakan juga jadi hilang.
Rasa saat benda asing masuk hidung emang aneh, agak gatal dan gak enak sama sekali. Untung saja hanya beberapa detik jadi bisa nahan sedikit. Tapi secara keseluruhan proses Swab yang kualami sekitar 5 menitan karena proses penolakan sebelumnya.


Waktu yang agak lama itu juga membuat temanku jadi lebih leluasa merekam dan menjepret kamera. Ada beberapa foto yang dihasilkan. Lumayanlah buat kenang kenangan.  Kalau dalam situasi yang berbeda atau bersama dengan teman lain pasti gak bisa menciptakan kenangan dengan kamera seperti ini.

Habis Swab, diminta untuk menunggu lagi. 10 menit kemudian hasilnya keluar. Syukur Alhamdulillah hasilnya negatif dan saya diperkenankan untuk mengikuti acaranya. Batuk yang saya rasakan bukan batuk covid tapi batuk pilek biasa. Rasa aneh di hidung pasca Swab juga hilang dengan sendirinya gak sampai hitungan jam.

So lain kali gak perlu takut Swab lagi.

Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s