Surat Untuk Emak dan Abah Disana

Lamongan, 21 November 2020

Teruntuk : Emak dan Abah Disana

Assalamualaikum wr wb
Emak, Abah…… bagaimana kabar kalian di sana? Semoga saja baik-baik saja dan berkumpul dalam keadaan bahagia. Setelah 12 tahun berpisah, akhirnya kalian bisa berkumpul di tempat yang sama.

Maafkan anakmu ini yang masih belum sanggup mendatangi rumah baru kalian. Aku takut jika kesana nanti, hati ini goyah dan air mata tumpah. Oleh karenanya sekarang ini aku hanya bisa menanyakan keadaan rumah baru kalian lewat mereka yang sudah kesana dan juga melihat dari gambar yang diabadikan kamera. Aku masih belum bisa janji kapan dapat berkunjung ke rumah tersebut.

Ketika Abah pergi 12 tahun yang lalu, aku masih sanggup berdiri walaupun ada banyak gelombang ujian hidup yang menerpa. Ada Emak yang menemani dan menguatkan. Saat melewati hari-hari sulit penuh ancaman dan ocehan orang, ada emak yang berdiri melindungi dari segala kenestapaan.

Ketika Emak menyusul Abah pergi 4 bulan yang lalu, aku sudah tidak punya pegangan lagi. Hari-hari begitu sulit, tak ada lagi yang memberi wejangan tak ada lagi yang menguatkan. Berat rasanya hati ditinggalkan orang yang paling disayang, tapi bagaimana lagi ini semua sudah suratan takdir Tuhan. Aku harus bisa ikhlas.

Emak, Abah pasca kepergian kalian, sedikit demi sedikit aku mencoba bangkit dari keterpurukan. Hidup harus terus berjalan, ada adik-adikku yang juga butuh bimbingan. Bersama-sama kami akan selalu bergandengan tangan saling menguatkan sampai tiba saatnya nanti akan menyusul kalian di sana.

Terimakasih Emak Abah untuk limpahan cinta yang kalian berikan pada anak-anakmu ini. Terimakasih atas didikan kalian sehingga aku dan saudara-saudaraku yang lain bisa seperti ini. Segala wejangan, anjuran dan larangan yang kalian berikan akan kami coba lakukan dengan sebaik-baiknya.

Abah……
Sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku untuk menekuni bidang tulis menulis yang dulu engkau senangi. Bayanganku dulu aku bekerja di perusahaan atau institusi pemerintahan sesuai dengan jurusan kuliahku. Namun sekarang aku sama sepertimu yang suka menulis dan bepergian kemana-mana. Lewat menulis aku bisa naik pesawat berkali-kali secara gratis dan berkumpul dengan orang-orang hebat.

Bagi orang desa, naik pesawat jadi pengalaman yang wah, apalagi dulu engkau sudah berkali-kali menaikinya. Mereka yang dulu pernah mengenalmu pasti bilang, aku mewarisi ilmu dan tabiatmu dalam hal tulis menulis. Sayangnya kita belum pernah kalaborasi lewat tulisan. Dulu aku masih terlalu polos untuk mengetahui apa saja yang sudah engkau lakukan dan tuliskan. Aku hanya memperhatikan tanpa pernah tertarik atau berkecimpung di dalamnya.

Andai engkau masih disini, aku ingin bertanya dan berdiskusi banyak hal, namun itu sudah tidak mungkin lagi. Aku hanya bisa berharap, semoga engkau senang dengan apa yang aku lakukan saat ini

Emak….
Maafkan aku yang masih belum bisa memenuhi semua keinginanmu, bahkan di saat-saat terakhirmu. Aku sudah berusaha dan berdoa namun takdir Tuhan masih belum mengijinkan.

Emak….
Pasca kepergianmu menyusul Abah, kehidupan di rumah ini banyak berubah.Seperti pesanmu, adik terkecilku sudah menikah dan sekarang tinggal di rumah mertuanya. Namun begitu dia hampir tiap hari datang kerumah, sekedar untuk makan pagi dan ganti baju. Satu adik laki-lakiku sudah bekerja dan hanya pulang kala Sabtu-Minggu. Satu adikku yang lain memang masih di rumah pasca PHK efek Corona namun rumah sudah terasa sepi gak kayak dulu lagi.

Jika sebelumnya urusan dapur sepenuhnya urusanmu, sekarang mau tidak mau aku yang harus mengurusinya. Disamping nyapu, nyuci dan melakukan banyak hal untuk rumah, aku sekarang harus masak tiap hari dan memikirkan menu-menu yang berbeda tiap hari. Jangan tanya rasanya gimana, pokoknya gak gosong pasti dimakan. Mau gimana lagi, kalau ada yang protes tak suruh masak sendiri. Semua menu yang dulu pernah engkau buatkan sekarang aku harus buat sendiri, kecuali masakan yang berbahan daun pisang karena aku belum bisa rapi bikinnya.

Emak, Abah ….. Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin aku sampaikan pada kalian. Namun setiap aku ingat kalian air mata ini dengan seenaknya keluar terus. Bahkan saat menulis surat ini, air mata terus mengalir. Ini bukan air mata kesedihan tapi air mata kerinduan. Kali ini nulisnya cukup disini saja, kalau diteruskan bisa banjir semua.

Lewat surat ini aku kirimkan banyak doa untuk kalian. Semoga Allah mengampuni segala salah dan dosa, menempatkan di tempat terbaik di sisiNya serta berkumpul dengan para penghuni surga.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Dari anak kedua kalian

Munasyaroh Fadhilah

Silahkan tinggalkan komentar di bawah ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s